SPI tugas UTS-Qu


Nama                                    : Irwanto

Nim                                        : 107016100758

Jurusan/ prodi                   : IPA/ Pen. Biologi

Mata kuliah                        : Sejarah Peradaban Islam

Dosen pengampuh         : H. Azhar Saleh

  1. 1. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan dan peradaban? Beri penjelasan!
    1. KEBUDAYAAN

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.

Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:

ü  Kebudayaan material

ü  Kebudayaan nonmaterial

Referensi khusus

1. ^ Reese, W.L. 1980. Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought, p. 488.

2. ^ Boritt, Gabor S. Lincoln and the Economics of the American Dream, p. 1.

3. ^ Ronald Reagan. “Final Radio Address to the Nation”.

4. ^ O’Neil, D. 2006. “Processes of Change”.

  1. PERADABAN

Peradaban adalah memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat “kompleks”: masyarakat yang mempraktikkan pertanian intensif; memiliki pembagian kerja; dan kepadatan penduduk yang mencukupi untuk membentuk kota-kota. “Peradaban” dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk pada seluruh atau tingkat pencapaian manusia dan penyebarannya (peradaban manusia atau peradaban global). Istilah peradaban sendiri sebenarnya lebih digunakan sebagai sebuah upaya manusia untuk memakmurkan dirinya dan kehidupannya.

Dalam sebuah peradaban pasti tidak akan dilepaskan dari tiga faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban. Ketiga faktor tersebut adalah sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan IPTEK.

Referensi umum kebudayaan dan peradaban

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090515182538AArdXEh

  1. 2. Mengapa setelah Rasulullah wafat, muncul persoalan politik dalam islam? Beri penjelasan!

Nabi Muhammad saw. tidak menunujuk siapa yang yang akan menggantikan sepeninggalnya beliau dalam memimpin umat yang baru terbentuk.

Masalah suksesi mengakibatkan suasana politik umat islam menjadi sangat tegang. Dilambatkannya pemakaman jenazah beliau menggambarkan betapa gawatnya krisis suksesi itu. Ada tiga golongan yang bersaing keras dalam perebutan kepemimpinan ini, yaitu Anshar dengan calonnya Sa’ad bin Ubadah, Muhajirin dengan calonnya Abu Bakar, dan keluarga Hasyim dengan calon Ali bin Abi Thalib; karena Nabi dengan terang-terangan menunjuk Ali sebagai penggantinya.

Situasi ini demikian kritis, pedang hamper saja terhunus dari sarungnya. Namun, berkat tindakan tegas dari tiga orang, yitu abu Bakar, Umar bin Khttab, dan Abu Ubaidah ibn Jarrah; yang dengan semacam kup (coup d’etat) terhadap kelompok, memaksa Abu Bakar sendiri sebagai deputy Nabi.

Sebagai pemimpin umat Islam setelah Nabi, Abu Bakar bergelar ‘Khalifah Rasulillah’ atau khalifah saja (secara harfiah artinya orang yang mengikuti, pengganti kedudukan Rasul). Meskipun demikian, dalam hal ini perlu dijelaskan bahwa kedudukan Nabi sesungguhnya tidak pernah tergantikan, karena tidak ada seorangpun yang menerima ajaran Tuhan sesudah Nabi Muhammad saw. Beliau sebagai saluran wahyu-wahyu Allah yang diturunkan dan sebagai utusan Allah tidak bisa diambil alih seseorang. Menggantikan Rasul ( Khalifah hanyalah berarti memiliki kekuasanyang diperlukan untuk meneruskan perjuangan Rasul).

Referensi

Mufrodi, Ali. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Ciputat: Logos Wacana Ilmu, hal. 45-46.

  1. 3. Beri penjelasan suksesi kepemimpinan mulai dari Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali?

Umar bin Khattab r.a. telah mencalonkan Abu Bakar as-Shiddiq r.a. untuk menduduki jabatan khalifah menggantikan kedudukan nabi saw. Dan pendudukan kota madinah, yang pada hakikatnya merupakan wakil-wakil negeri secara keseluruhan, telah menerimanya dengan baik. Mereka itu telah membai’atnya dengan sukarela dan atas dasar pilihan mereka tanpa ada paksaan ataupun tekanan. Dan ketika Abu Bakar meninggal dunia, ia mewasiatkan khilafah bagi Umar r.a. dengan mengumpulkan penduduk di masjid Nabi saw., kemudian beliau berkata kepada mereka: “ Apakah kalian menyetujui orang yang kutunjuk untuk menggantikan kedudukanku sepeninggalku? Sesungguhnya aku, Demi Allah, telah bersungguh-sungguh berdaya-upaya memikirkan tentang hal ini, dan aku tidak mengangkat seorang dari sanak keluargaku, tapi aku telah menunujuk Umar bin Khattab sebagai penggantiku. Maka dengarlah dan taatlah kepadanya.” Orang banyakpun berkata: “Sami’na wa atha’na” (kami dengar dan kami taat”).

Ketika Umar bin Khattab, pada saat melaksanakan haji ditahun hidupnya yang terakhir, mendengar seseorang telah berkata: “ Sekiranya Amirul Mukminin (yakni Umar) meninggal dunia, niscaya aku akan membai’at si fulan, sebab bai’at kepada Abu Bakar adalah suatu peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, namun ia telah berlangsung baik dan sempurna.” Maka Umar pun berkata: “aku akan berpidato kepada rakyat banyak pada sore hari ini dan akan mengeluarkan peringatan kepada sekelompok orang yang ingin memakasakan kehendak mereka atas rakyat.” Karena itu, demi mengingatkan peristiwa ini, dalam khutbahnya yang pertama sekembalinya ke kota Madinah, ia telah menceritakan, dengan terperinci, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Saqifah dan kondisi yang telah menyebabkan dirinya bangkit untuk memberikan bai’atnya kepada Abu Bakar secara tiba-tiba. Kata Umar: “Sesungguhnya kami waktu itu tidak mempunyai pilihan lain yang lebih kuat dari melakukan bai’at kepada Abu Bakar. Sekiranya kami meninggalkan tempat itu sebelum melaksanakan Bai’at, kami khawatir bahwa mereka akan melangsungkan suatu bai’at lainnya dan setelah itu kami hanya dapat mengikuti mereka dalam sesuatu yang kami setujui, atau kami menentang mereka, maka keonaranpun akan terjadi. Karena itu, barang siapa membai’at seseorang lainnya tanpa musyawarah dengan kaum muslimin, hendaknya dia jangan diikuti dengan pula diikuti orang yang telah dibai’atnya, sebab keduanya terancam akan dibunuh.”

Berdasarkan kaidah yang telah dijelaskan dalam pidatonya itu, ia kemudian mengangkat suatu panitia pemilihan sesaat sebelum ia wafat agar dapat memutuskan perkara kekhalifahan ini, dan ia berkata: “Barang siapa menyeru kapada kepemimpinan bagi dirinya tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin, maka bunuhlah dia.” Kemudian ia mengeluarkan suau keputusan yang mengecualikan puteranya sendiri dari hak meraih khilafah agar jabatan itu tidak menjadi jabatan yang diwariskan. Dan ia telah menunujuk enam orang dalam panitia pemilihan itu yang menurut pandangannya adalah orang-orang yang paling besar pengaruhnya dan yang paling dapat diterima oleh rakyat.

Pada akhirnya telah diputuskan oleh panitia tersebut untuk menyerahkan urusan pemilihan khalifah ini kepada Abdurrahman bin ‘Auf, maka ia pun berkeliling menanyakan siapakah yang lebih dapat diterima oleh orang banyak, sampai-sampai ia bertanya pula kepada khalifah-khalifah yang sedang pulang dari haji, dan akhirnya ia berkesimpulan, setelah mengadakan referendum umum, bahwa kebanyakan rakyat lebih condong kepada sayyidina Utsman bin Affan. Berdasarkan itu, ia pun dipilih sebagai khalifah atas kaum muslimin dan dibai’at dihadapan orang banyak dalam suatu pertemuan umum.

Setelah Sayyidina Utsman dibunuh, orang banyak hendak mengangkat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, maka ia pun berkata kepada mereka : “Urusan ini bukan lah urusan kalian, tetapi ini adalah urusan tokoh-tokoh ahli syura bersama para bekas pejuang Badr. Dan siapa saja disetuju oleh tokoh-tokoh ahli syura bersama para bekas pejuang Badr, itulah dia khalifah yang berhak. Karena itu, kami akan berkumpul dan memikirkan persoalan ini.”

Diriwayatkan oleh Thabari bahwa Ali berkata: “Bai’atku tidak akan terjadi secara rahasia dan tidak akan merlangsung kecuali atas dasar kerelan kaum muslimin. Dan ketika Ali r.a. hampir wafat, orang banyak pun bertanya kepadanya: “Apakah anda akan membai’at Hasan, putera Anda?” Maka beliau menjawab: “Aku tidak memerintahkan kepada kalian dan tidak melarang kalian, kalian lebih mengerti.” Ketika ia mengucapkan pesannya yang terakhir di hadapan putera-puteranya, seorang laki-laki bertanya kepadanya: “Tidaklah engkau sebaiknya membuat wasiat wahai Amirul Mukminin?” (maksudnya menetapkan seorang pengganti), maka, beliaupun berkata: “Tidak, aku akan menignggalkan kamu (tanpa suatu pesan) sebagaimana Rasulullah telah meninggalkan para sahabatnya.”

Referensi:

A ‘la Al-Maududi, Abul. 1996. Khilafah dan Kerajaan (terbitan VI). Kuwait: Dar Al-Qalam, hal. 112-114

  1. 4. Beri penjelasan kebijakan-kebijakan pokok pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali?
    1. Abu Bakar
      1. i.      Melancarkan operasi pembersihan terhadap “Riddah”. Adalah gerakan yang melepaskan kesetiaan; beralih agama dari Islam ke kepercayaan semula.
      2. ii.      Menumpas nabi-nabi palsu; yang pertama mengaku nabi adalah Aswad Amsi dari Yaman, berikutnya Musailamah si pendusta yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. telah mengangkat dirinya sebagai mitra di dalam kenabian; dan penganggap lainnya adalah Tuhaihah dan Sajjah ibn Haris, seorang Wanita dari Arabia tengah.
      3. iii.      Pembersihan orang-orang yang enggan membayar zakat; adapun orang-orang yang enggan membayar zakat, di antaranya karena mereka mengira bahwa zakat adalah serupa dengan pajak yang dipaksakan dan penyerahannya ke perbendaharaan pusat di Madinah sama artinya dengan ‘penurunan kekuasaan.
  1. Umar bin Khattab
    1. i.      Mensukseskan ekspedisi yang dirintis oleh pendahulunya; pada tahun 635 M Damascus ibu kota Suriah dapat ditundukan.
    2. ii.      Membuat dasar-dasar bagi suatu pemerintahan yang handal untuk melayani tuntutan masyarakat baru yang terus berkembang. Diantaranya adalah mendirikan dewan-dewan (jawatan), dan membangun Baitul Mal.
  1. Usman bin Affan
    1. i.      Melanjutkan sukses para pendahulunya, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam; Mesir dan Irak dapat dikuasai.
    2. ii.      Menyusun kitab suci al-Qur’an. Ini adalah karya yang sangat besar, dengan tujuan untuk mengakhiri perbedaan-perbedaan serius dalam bacaan al-Qur’an, dan sebagai ketua dewan penyusunan al-Qur’an adalah Zaid bin Sabit.
  1. Ali bin Abi Thalib
    1. i.      Menghidupkan atau mewujudkan cita-cita Abu Bakar dan Umar. Yaitu, menarik kembali semua tanah dan hibah yang telah dibagikan oleh Usman kepada kaum kerabatnya kedalam kepemilikan Negara.
    2. ii.      Menurunkan semua gubernur yang tidak disenangi rakyat.
    3. iii.      Memerintahkan prajurit, memimpin pasukan, dan terjun langsung ke medan perang unta. Sebenarnya Ali ingin menghindari pertikaian tersebut dan mengajukan kompromi kepada Talhah dan kawan-kawan. Tetapi tampaknya penyelesaian damai sulit tercapai. Maka kontak senjatapun tak dapat dielakkan lagi. Talhah dan Zubair terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah dikembalikan ke Madinah. Peperangan ini terjadi pada tahun 36 H, dan dinamakan perang unta karena Aisyah menaiki unta dalam pertempuran tersebut. Dalam pertempuran tersebut 20.000 kaum muslimin gugur.

Referensi:

Mufrodi, Ali. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Ciputat: Logos Wacana Ilmu, hal. 47-65.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s